Pengertian Prosa Lama, Prosa Baru dan Puisi


fauzanstone

 Pengertian Prosa Lama

Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat.

☻ Prosa lama mempunyai bentuk-bentuk sebagai berikut:

1) Hikayat, bentuk sastra lama yang berisi cerita kehidupan para dewa, peri, pangeran atau putri kerajaan, serta raja-raja yang mempunyai kehidupan luar biasa dan gaib.

2) Sejarah atau tiambo, salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah yang pernah terjadi.

3) Dongeng. bentuk sastra lama yang bercerita tentang sesuatu kejadian yang luar biasa dan penuh khavalan, tentang dewa-dewa, peri-peri, putri-putri cantik, dan sebagainya. Fungsi dongeng haruslah sebagai penghibur. Oleh karena itu, dongeng disebut juga cerita pelipur lara.

☻ Ciri-ciri Prosa Lama

1. Statis
Kalau kita baca Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Si Miskin, Hikayat Bangsawan, dan prosa lama yang lain, bentuknya selalu sama, pola-pola kalimatnya sama, malahan banyak kalimat dan ungkapan sama betul, tema ceritanya pun sama.

2. Diferensiasi…

Lihat pos aslinya 2.149 kata lagi

Balada Pembela Manusia Buta


SanG BaYAnG

Balada Pembela Manusia Buta
Sajak Cermin : Sang Bayang

Masih pada malam tempat kelana jiwa bersemayam.
Dalam ruang sajak yang berhenti mencaci.
Aku kembali.
Bukan padamu malam atau kawan.

Lihat pos aslinya 58 kata lagi

Sastrawan dan Tugas yang Terlupakan #Bagian1


jurnal

“Bukankah rangkaian kalimat yang tersusun indah lebih tajam daripada pedang? Bukankah kalimat-kalimat inspiratif mampu menggerakkan manusia? Hanya para penyair yang bisa membunuh tanpa pedang dan mereka juga siap terbunuh demi mempertahankan rentetan kalimat karya mereka.”

Itulah kata-kata dari Dr. Raghib As Sirjani dalam bukunya yang berjudul “Palestina: Kewajiban yang Terlupakan. 1135 Gerakan untuk Membebaskan Palestina.”

Lalu, apa yang saya maksud dengan “Sastrawan dan Tugas yang Terlupakan”? Seperti yang kita ketahui, bahwa kehidupan kita saat ini tak pernah lepas oleh jasa para sastrawan. Film-film, naskah drama, iklan, tulisan-tulisan baik itu berupa puisi, prosa, novel, cerpen, ataupun syair-syair lagu menjadi santapan kita setiap hari. Maka di sana pulalah terdapat tugas mulia seorang sastrawan.

Di mana lewat karyanya, seorang sastrawan mampu bertempur hingga titik darah penghabisan. Bagi seorang penyair sejati, syair-syairnya bukanlah bualan utopis (khalayan, red.) dan setiap bait yang ditulis senafas dengan tindakannya. Karya mereka merupakan catatan perenungan yang dalam tentang realitas kehidupan manusia.

Rasulullah SAW pun mengapresiasi para penyair1, memotivasi mereka untuk membela kehormatan kaum muslimin2, menyindir (mendiskreditkan) para kafir3, dan berjihad dengan lisan4. Maka jadilah seorang sastrawan yang sejati. Tidak hanya melafalkan gombalan-gombalan tanpa ujung, tetapi juga menyiarkan nilai-nilai kehidupan dan keilahan (ketuhanan, red.).

Catatan kaki:

1    Rasulullah SAW meminta Hasan—cucu terkasihnya—berdiri di atas mimbar di dalam masjid. Sang cucu lantas berdiri di atas mimbar lalu berorasi mengungkapkan kebanggaannya atas sang kakek. Rasulullah SAW lalu berujar, “Allah akan menolong Hasan dengan Ruhul Qudus, sesuatu kebanggaan atau tiupan yang tidak diperoleh rasul-Nya.” Hadits riwayat Turmudzi kitab Adab pasal “Apresiasi Penyair” (2846) Abu Yu’la (4746) Imam Hakim (6058).

2    Jabir Ibnu Abdullah meriwayatkan. Tatkala meletus perang Khandaq (multigolongan), para kafir begitu yakin atas kemenangan mereka. Mereka menista dan menghina kaum muslimin. Rasulullah SAW berujar, “Siapa yang siap membela kehormatan kaum muslimin?” Dengan sigap Hasan Ibnu Tsabit berkata, “Saya siap wahai utusan Allah.” Rasulullah SAW lalu berujar, “Ya, lakukan, sindir dan ejek mereka, kau akan ditolong Allah dengan Ruhul Qudus.” Lihat Ibnu Asakir dalam Tarikh ad Damsiq 12/391 hingga 404. Lihat pula Kanzul Ummah 10/444.

3    Hadits riwayat Al Barra’. Rasulullah SAW berujar kepada Hasan, “Sindir atau ejek mereka, Jibril akan bersamamu.” Hadits riwayat Imam Bukhari (3041) Imam Muslim (2486).

4    Hadits riwayat Anas Ibnu Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Berjihadlah melawan orang kafir dan musyrik dengan harta, jiwa raga, dan lisan kalian. Hadits riwayat Abu Daud. Kitab Jihad (2504) Imam Nasai (3096) Imam Ahmad (12268) Imam Hakim (2427).