Sebuah Kisah tentang Rasa Sabar & Sifat Pelupa – Edisi Dibuang Sayang


#LatePost #EdisiDibuangSayang

Sabtu (5/3/2016) lalu, saya bersama guru lainnya, beberapa orang tua murid, dan sebagian besar murid pergi bersama ke Islamic Book Fair 2016 di Istora Senayan. Seharusnya itu menjadi hal yang menyenangkan, tapi ternyata takdir berkata lain. Bermula dari niat berbagi, tapi berakhir dengan perkara yang tidak sederhana.

Jadi berdasarkan peraturan sekolah, setiap murid hanya boleh membawa uang maksimal 25 ribu rupiah untuk belanja buku. Dan setiap murid harus belanja dengan ditemani guru. Setelah pembagian kelompok, hasilnya seorang guru harus mendampingi antara 6 – 7 murid. Saya sendiri lupa berapa murid yang saya dampingi waktu itu.

Singkat cerita, ketika saya menemani kelompok saya berburu buku, saya mengeluarkan kebijakan yang tidak populer. Waktu itu anak-anak kelompok saya sebagian besar ingin membeli komik Islam yang harganya lebih dari 25 ribu. Saya dengan sok bijaknya membolehkan mereka membeli komik-komik itu. Uang yang kurang itu saya tutupi dari dompet saya pribadi. Sebuah amal ikhlas tanpa pemikiran dalam yang akhirnya berbuah penyesalan.

Berita saya “mentraktir” sebagian besar anak-anak kelompok saya pun menyebar dengan cepatnya. Walhasil, beberapa anak yang kritis segera mengkritisi kebijakan yang saya buat tersebut.

Oke, jadi itulah akhir dari draf post yang ditulis terakhir kali pada 8 Maret 2016. Dan entah mengapa ketika saya membuka lagi postingan ini secara tidak sengaja pada 27 Desember 2018, saya tidak tahu lagi apa sebenarnya kelanjutan tulisan yang ingin saya ceritakan dua setengah tahun yang lalu itu. Terkadang memang menyedihkan menjadi seorang pelupa. Jangankan ingatan tentang kisah hidup orang lain, kisah hidup diri sendiri pun mudah terlupakan. Meski ada hal yang harus disyukuri dalam sifat pelupa, yaitu sifat mudah melupakan kejelekan orang lain dan melupakan kenangan-kenangan buruk. Walau mungkin tidak bisa menghilangkan kenangan buruk 100%, tapi kehilangan sebagian besar ingatan buruk bagi seorang pelupa (biasanya dimiliki oleh seseorang dengan karakter sanguinis) adalah sebuah anugerah yang dapat membuat hidupnya seakan selalu bahagia. Sedangkan kemampuan melupakan kejelekan orang lain merupakan sebuah anugerah yang memudahkan seorang pelupa untuk memaafkan orang lain maupun untuk menghilangkan rasa sombong karena mengetahui aib orang lain.

Dan sifat pelupa itulah motivasi terbesar agar saya tetap konsisten menulis blog ini. Lucu memang, hanya seorang pelupa yang bisa tertawa, sedih, marah, atau bahkan tersipu malu saat membaca tulisan-tulisan lamanya sembari berseru dalam hati, “Oh, dulu pernah ada kejadian kayak gini ya!”

Kembali ke kisah 3 Maret 2016. “Sabar”, itulah judul awal postingan ini saat ditulis pertama kali. Setelah merenung cukup lama, sepertinya saya ingat perasaan saya waktu itu. Ya, perasaan di mana saat sebenarnya engkau tulus ingin membantu tapi malah berujung pada rasa bersalah. Pertama, karena berita saya mentraktir itu tersebar ke kelompok lain, akhirnya muncullah rasa iri di sebagian murid. Kedua, pada akhirnya berita itu tersebar pula ke Kepala Sekolah dan Pimpinan Yayasan yang membuat saya lebih tidak enak hati.

Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini. Pertama, hati-hati berurusan dengan anak kecil, terkadang mereka begitu polos dan jujur sehingga sulit diajak bekerja sama (misal untuk merahasiakan sesuatu dari orang lain). Yaitu ternyata tidak semua hal baik menurut kita adalah hal baik menurut orang lain maupun khalayak. Setelah dipikir-pikir, mentraktir sebagian murid dalam kasus ini membuat saya melanggar peraturan yang telah ditetapkan sekolah kepada para murid. Di mana setiap murid dibatasi hanya dapat membeli buku atau beberapa buku dengan total harga maksimal 25 ribu rupiah. Kedua, hal tersebut bukannya membuat (semua) murid senang, tapi justru memicu rasa iri di sebagian murid. Ya, meski tentunya murid yang saya traktir senang, tapi murid yang saya tidak traktir lebih banyak sehingga rasa bersalah lebih dominan saya rasakan.

Udah itu aja. Makasih buat yang sudah baca, semoga bisa mengambil hikmah dari kisah ini. Buat yang punya kisah serupa atau pandangan tertentu terkait kisah ini bolehlah diceritakan di kolom komentar. Sekali lagi mohon maaf dan terima kasih. πŸ˜€


Hal yang baik menurut kita, belum tentu baik bagi orang lain maupun khalayak apalagi menurut Allah subhanahu wata’ala (tengok QS. Al-Baqarah : 216).

Yusuf Muhammad, 28-12-2018

Mulai ditulis sejak 7 Maret 2016 di Bogor (masih jadi guru SD) dan selesai pada 28 Desember 2018 dini hari (sudah alih profesi jadi (calon) Polisi Kehutanan) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Salah satu kenangan indah saat mengajar yang akhirnya terabadikan dalam blog. #LatePost #EdisiDibuangSayang

15 pemikiran pada “Sebuah Kisah tentang Rasa Sabar & Sifat Pelupa – Edisi Dibuang Sayang

  1. Kalo awal2 jadi guru emang gtu sih. Banyak inisiatif kita yang salah. Aku juga ngalamin ka. Tapi berhadapan sama murid memang melatih kebijaksanaan kita. Karena murid kita kan ga sedikit. Tapi puluhan, dan kebaikan hati yang timpang pada sedikit murid sama seperti orang tua yang pilih kasih sama salah satu anak di pandangan murid.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Haha saya pernah kaa. Ngebolehin anak makan mie instan waktu acara kemah pramuka. Padahal peraturan sekolah ngga boleh. Niatnya sih apresiasi dan kejutan karena mereka udh di bina mental sampe nangis”. Eh ada 1 anggota yg dia jg anggota klub lain yg saya pegang, di tempat umum dia nego pgn beli popmie πŸ˜…

    Disukai oleh 1 orang

  3. Hahaha… Pelupanya parah bgt yak. Aku jg pelupa sih, terkadang pas baca tulisan yg udah lama malah amaze sndr, ‘eh aku pernah nulis ginian yak? ‘ wkwkwkw.

    Klo aku jd murid yg lain bukannya malah iri sih… Malahan pngen minta ditraktir juga wkwkw

    Disukai oleh 1 orang

  4. meski tulisan draft bersambung, tp ada hikmah yang terselip yang bisa diingat. alhamdulillah, pelajaran buat saya yg susah melupakan kesalahan orang 😦
    salahnya sih bisa lupa, tp jatuhnya jadi kayak menghindari orangnya.

    mas yusuf kapan nulis lagi πŸ˜€

    Disukai oleh 1 orang

      1. Oh kalau berulang kali itu alasan yg kuat. Memang lebih baik dihindari untuk mengurangi kebencian..

        Sama seperti Rasulullah saw yg berpaling setiap bertemu Wahsyi bin Harb. Beliau memaafkan Wahsyi, tapi tidak mau melihat mukanya sebab takut teringat akan pamannya yg dibunuh Wahsyi.

        Disukai oleh 1 orang

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.