Surat Adik-adik kepada Presiden


Pendidikan dan yatim-piatu menjadi perhatian utama

BOGOR – Adik-adik Birena (Bimbingan Remaja dan Anak-anak) membuat surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ahad (24/3). Pembuatan surat tersebut dalam rangka kegiatan pembinaan pekanan berupa rupa-rupa. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kemampuan adik-adik dalam menulis surat.

Derry Ferdani Rustanzi, mahasiswa Silvikultur IPB (20 tahun), menjadi penanggung jawab kegiatan. Beliau memberikan beberapa pilihan isi surat. Pilihan isi surat tersebut antara lain tentang pemeliharaan anak yatim-piatu; penjagaan anak dari kekerasan dan penindasan; pemberian mainan dan tempat bermain bagi anak; beasiswa bagi anak berprestasi; pendidikan gratis hingga perguruan tinggi; dan nasib anak-anak di perbatasan Indonesia.

Hasilnya sebanyak 36% dari 139 isi surat tertulis permohonan agar pendidikan digratiskan hingga perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran dan keinginan untuk meraih pendidikan pada adik-adik Birena sangat tinggi. Kedua terbesar adalah tentang kepedulian terhadap anak yatim-piatu, yaitu sebanyak 22%. Disusul tentang penjagaan anak terhadap kekerasan dan penindasan sebanyak 11%.

Sedangkan empat dari delapan adik yang menulis tentang beasiswa prestasi merasa tidak mendapatkan apresiasi meskipun berprestasi. Seperti yang terjadi pada Arif (V SD) dari Ciampea, Bogor. Dia menulis dalam suratnya bahwa meskipun dia juara II tapi tidak ada yang memberinya hadiah. Bahkan dia merasa teman-teman meliriknya dengan sebelah mata.

Sisanya sebanyak 4% menuliskan tentang kepedulian terhadap nasib anak-anak di perbatasan Indonesia. Tiga adik lainnya dengan polos meminta mainan dan tempat bermain kepada pak presiden. Dan hanya dua adik (1%), yaitu Gading Bahari (VI SD) dan Syaidah Nurul Maulida (VI SD), yang meminta pak presiden untuk memberantas korupsi. Meskipun di luar dari pilihan isi surat yang diberikan, tapi hal ini sangat membanggakan. Karena itu menandakan mereka memiliki kepedulian dan kesadaran yang tinggi terhadap kasus korupsi.

Hasil kegiatan penulisan surat cukup membanggakan, meskipun menuai sedikit kekecewaan. Masih terdapat 12% surat yang hanya berisi pengulangan contoh surat yang tertampang di papan tulis. Lebih menyedihkan lagi karena banyak adik yang kurang paham tersebut sudah kelas V dan VI. Selain itu, hampir sebagian besar penulisan surat belum sesuai EYD dan tata bahasa yang baik. Ini sedikit menandakan bahwa bangsa Indonesia ternyata belum menguasai bahasa nasionalnya sendiri.

Tulisan ini bisa menjadi sedikit cerminan dari kondisi anak bangsa. Harapan anak bangsa yang tinggi terhadap pendidikan haruslah dipertahankan. Begitu pula tentang kepedulian terhadap yatim-piatu. Masih kurangnya apresiasi terhadap prestasi menjadi “PR” bagi Indonesia. Mungkin masih banyak pula anak bangsa yang tidak tahu kabar saudaranya di wilayah perbatasan sana. Kurangnya penguasaan bahasa nasional juga menjadi keprihatinan tersendiri.

.                                                                                                                                              .

Yusuf Muhammad1

1| Badan Pengurus Harian Birena Al Hurriyyah IPB

Korespondensi: ibnuyakub.yusuf@gmail.com / 085724420880

Lansium domesticum Corrêa


Foto identifikasi Duku (Lansium domesticum Corrêa)
Foto identifikasi Duku (Lansium domesticum Corrêa)

Identitas Spesies

1. Taksonomi

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili: Meliaceae
Genus: Lansium
Spesies: Lansium domesticum Corrêa

2. Sinonim

Aglaia dookoo Griffith

3. Nama lokal

Myanmar: duku, langsak
Inggris: duku, langsat
Filipina: lanzone, lanzon, lansones, lansone, buahan
Indonesia: duku, kokosan, langsat
Malaysia: langseh, langsep, lansa
Thailand: duku, longkong, langsat
Vietnam: Bòn-bon

4. Deskripsi

Duku (Lansium domesticum) memiliki batang pohon yang pendek, langsing, dan bercabang. Tingginya mencapai 10-15 m dengan warna merah kecoklatan atau kuning kecoklatan dan kulit kayu berkerut.

Daun majemuk ganda satu tersusun alternate pada tangkai dan memiliki panjang 22.5-50 cm serta berjumlah 5-7 anak daun. Anak daun berbentuk obovate atau elliptic-oblong, runcing pada bagian pangkal dan ujung daun, serta memiliki panjang 7-20 cm. Daun sedikit kasar, berwarna hijau tua dan mengkilap pada permukaan atas serta pucat dan kusam di bagian bawahnya. Bunga kecil, berwarna putih atau kuning pucat, gemuk, dan kebanyakan biseksual (berkelamin ganda). Bunga menggantung pada tandan sederhana atau batang cabang tertua. Pada awalnya bunga berdiri tegak dan akhirnya menggantung. Panjang bunga mencapai 10-30 cm.

Buah menggantung sebanyak 2-30 buah dalam satu kelompok. Buah berbentuk oval, lonjong-bulat telur atau hampir bulat, dengan diameter sebesar 2.5-5 cm, dan mempunyai cahaya kuning keabu-abuan hingga pucat kecoklatan atau merah muda. Kulit buah seperti beludru, kasar, tipis, dan mengandung getah seperti susu (getah putih). Terdapat 5 atau 6 bagian daging buah yang aromatik, putih, tembus cahaya, berair (arils), dan memiliki rasa sedikit asam hingga asam. Biji-biji melekat pada daging buah, ditemukan 1 sampai 3 biji pada 1 buah. Mereka berwarna hijau, relatif besar, panjang mencapai 2-2.5 cm dan lebar mencapai 1.25-2 cm, serta sangat pahit. Kadang-kadang daging buah yang melekat pada biji rasanya pahit.

Terdapat dua varietas botanik yang berbeda, varietas pubescens, biasa disebut langsat, berukuran lebih kecil, kulit buah tebal, dan bergetah banyak; dan varietas domesticum, biasa disebut duku.

Penyebaran

1. Habitat Alami

Hidup pada daerah tropik terutama pada hutan dataran rendah, terdapat pada ketinggian hingga 650-750 m. Tumbuhan ini memerlukan kelembapan yang cukup dan tidak tahan terhadap kekeringan panjang. Di Jawa, tumbuhan ini tumbuh pada daerah basah selama 6-12 bulan dengan curah hujan melebihi 100 mm/bulan.

2. Sebaran Geografi

(Endemik) : Indonesia, Malaysia, Filipina,  Kamboja, China
(Eksotis) : Vietnam, Thailand, India, Amerika Serikat, Trinidad and Tobago, Suriname, Puerto Rico, Honduras, Kuba

3. Biologi Reproduksi

Di Malaysia berbuah sebanyak dua kali dalam setahun pada bulan Juni-Juli dan Desember-Januari, kadang-kadang hingga Febuari. Di India, buah muncul pada bulan April-September. Namun, di Filipina berbuah secara singkat, yaitu kurang dari satu bulan pada masa berbuah.

Manfaat

1. Produk

Sebagai makanan, bahan pertukangan dengan ciri-ciri kayu berwarna coklat terang, keras, elastis, berat 840 kg/cu m. Pemanfaatan bagian getah atau resin, tanin, minyak esensial, aromatik untuk menghindarkan nyamuk, sebagai obat diarrhoea, disentri, dan malaria.

2. Jasa

Sebagai tumbuhan yang cocok sebagai reklamasi lahan hutan pada daerah pebukitan. Di Philippina sebagai pembatas.

-Daftar Pustaka-

Hong TD, Linington S, Ellis RH. 1996. Seed storage behaviour: a compendium. Handbooks for Genebanks: No. 4. IPGRI.

IBPGR. 1986. Genetic Resources of Tropical and Subtropical Fruits and Nuts (Excluding Musa). Rome: International Board for Plant Genetic Resources.

Kuswara T. 1982. Cultivation of rattan in Central Kalimantan. (Budidaya rotan di Kalimantan Tengah.). Bulletin Kebun Raya. 5(4): 85-90.

Morton J. 1987. Langsat. p. 201-203. In: Fruits of Warm Climates. Julia F. Morton, Miami, FL.

Nishizawa M, Nademoto Y, Sastrapradja S, Shiro M, and Hayashi Y. 1988. Dukunolide D, E and F: new tetranortriterpenoids from the seeds of Lansium domesticum. Phytochemistry. 27(1): 237-239.

Sangat Roemantyo H. 1990. Ethnobotany of the Javanese incense. Economic Botany. 44(3): 413-416.

Serrano RC. 1988. The home-based pandan industry of Luisiana and Majayjay, Laguna. Canopy International. 14(1): 5-7.

Wong KC, Wong SW, Siew SS, and Tie DY. 1994. Volatile constituents of the fruits of Lansium domesticum Correa (duku and langsat) and Baccaurea motleyana (Muell. Arg.) Muell. Arg. (rambai). Flavour and Fragrance Journal. 9(6): 319-324.

Yap SK. 1982. The phenology of some fruit tree species in a lowland dipterocarp forest. Malaysian Forester. 45(1): 21-35.